32 C
Demak
28 September 2022
spot_img

Ciri-Ciri Galon Isi Ulang Sudah Tidak Layak Pakai

Jakarta, Demaknews.id – Penggunaan galon isi ulang biasanya akan dipakai selama bertahun-tahun. Meski hanya diisi air mineral, galon harus tetap dicuci setiap kali isi ulang air tersebut dilakukan.

Tapi seberapa lama sebenarnya galon isi ulang itu aman digunakan?

Ahli teknologi pangan dari Intitut Pertankan Bogor (IPB) Nugraha Edhi menjelaskan bahwa umur pakai galon isi ulang sebenarnya sangat tergantung dari cara penggunaannya.

Baca juga : Menko Airlangga Hartarto Desak Kepala Daerah Kendalikan Inflasi

“Kalau enggak hati-hati, ya akan cepat rusak. Kalau misalnya kawat pembersihnya keras. Biasanya bisa dilihat dari inegritas kemasan, masih bening, diisi air masih jernih, gak ada gores-goresan. Kalau permukaan luar sudah tidak halus masih mungkin, karena ada gesekan jadi permukaannya sudah tidak halus. Itu otomatis akan meningkatkan laju migrasi,” paparnya saat workshop bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) beberapa waktu lalu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga belum mengatur terkait umur pakai galaon tersebut. Sehingga, menurut Nugraha, yang bisa dilakukan konsumen hanya melihat tanda-tanda secara fisik pada galon isi ulang.

Ia mengatakan bahwa apabila galon digunakan dengan cara hati-hati, kemungkinan waktu pemakaiannya bisa sampai lima tahun.

“Seiring waktu penggunaannya sudah berubah, jadi lebih keruh, lebih berubah warna jadi kekuningan, itu ciri-ciri yang sudah rusak plastiknya. Saya gak yakin kalau cuma 2 sampai 3 tahun, tergantung dari penggunannya. Kalau penggunaannya bagus, gak ada yang tergores, mungkin selama belum rusak, bisa terus,” ujarnya.

Sebagai pakar teknologi pangan, Nugraha mengaku belum sempat mengamati terkait umur pakai dari plastik polikarbonat, bahan baku yang digunakan dalam pembuatan galon air minum.

Tetapi, selama bentuk fisik galon masih baik, tidak ada kerusakan fisik, juga dibersihkan dengan alat yang terstandar, menurutnya masih bisa digunakan.

“Karena selama ini polikarbonat jarang dilakukan proses pemanasan. Jadi mungkin relatif, degradatif BPA perlu suhu yang sangat tinggi. Untuk masalah umur simpan, saya terus terang kurang tahu. Mungkin bagi industri pengguna tahu. Tapi tentu tidak sekali pakai langsung didaur ulang,” katanya.

Memang bisa jadi hal baik bila BPOM membuat aturan terkait batas maksimal penggunaan galon isi ulang. Hanya saja, ia mengusulkan agar terlebih dahulu dilakukan penelitian.

Agar aturan tersebut tidak hanya membatasi waktu penggunaan, tapi juga menjelaskan kondisi fisik galon yag tidak boleh digunakan lagi meski masa pemakaiannya belum sampai batas maksimal.

“Yak mungkin juga kalau misalnya satu bulan sudah rusak karena pemakaian yang ceroboh, tapi tetap dipakai selama tiga tahun, kan gak boleh juga. Jadi harus ada kejelasan kepada pihak industri. Kalau BPOM harus buat maksimal berapa, perlu ada studi. Misal, berisiko paparan BPA makin tinggi atau potensi cemaran yang lain. Kalau dibatasi tanpa ada studi itu rasanya kurang fair,” pungkas Nugraha. (Suara.com)

Related Articles

- Advertisement -spot_img