24 C
Demak
6 August 2022
spot_img

Tungguk Tembakau Awali Panen di Lereng Merbabu

Boyolali, Demaknews.id  – Masyarakat Desa Senden, Kecamatan Selo belum lama ini, berkumpul dan meramaikan jalur pedesaan, yang kanan kirinya ditumbuhi oleh tanaman tembakau.

Dengan memakai pakaian tradisional, masyarakat lereng Gunung Merbabu ini terlihat gembira untuk mengikuti dan menyaksikan ritual petik daun tembakau, sebagai tanda syukur atas hasil panen tembakau tahun ini.

Tradisi ini diawali dengan kirab budaya yang membawa hasil bumi dan gunungan tembakau  diiiringi sejumlah kesenian tradisional, mengelilingi sepanjang jalan desa.

Baca juga : Tingkatkan Budidaya, Petani Tembakau dan Padi Dapat Bantuan Alsintan

Bupati Boyolali, M Said Hidayat menyampaikan, tungguk tembakau merupakan tradisi yang digelar saat mengawali panen tembakau, di mana tungguk diartikan memetik. Ritual itu sebagai wujud syukur para petani lereng Gunung Merbabu wilayah Kabupaten Boyolali, sebelum memulai panen tembakau.

Menurutnya, tradisi Tungguk Tembakau tersebut digelar sekaligus untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang harus tetap dijaga.

“Sehingga ke depan ini tetap harus kita jaga dan kita laksanakan kelestarian budaya lokal kita. Ini semua pentingnya untuk bersama-sama memanjatkan doa kita kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para petani-petani kita ini tetap terjaga kesehatannya, para petani-petani kita ini akan mampu merasakan hasil panen yang baik ke depan,” ungkap Said.

Disinggung mengenai produksi tembakau di Kecamatan Selo, yang ditanam di lahan seluas 1.600 hektare dengan 7.600 petani tembakau, Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Boyolali, Bambang Jiyanto mengatakan, penanaman tembakau agak menurun jika dibandingkan pada 2021. Tahun 2021 luas tanam untuk tembakau asepan seluas 253 hektare, adapun untuk rajangan 4.445 hektare, produksi tembakau kering sekitar satu ton per hektare.

“Untuk tahun 2022 kita luas tanam asepan 68,6 hektare, dan luas tanam untuk tembakau rajangan 3.078 hektare. Dibandingkan dengan tahun lalu kita menurun 0,8 persen karena curah hujan yang cukup tinggi, dan menurunnya minat petani karena melihat kondisi alam,” jelas Bambang.

Dalam kesempatan tersebut, Said juga meresmikan Bangsal Pascapanen dan Pengolahan Komoditas Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia di Desa Senden, Kecamatan Selo. (Sumber Pemprov Jateng)

Related Articles

- Advertisement -spot_img