29 C
Demak
3 August 2022
spot_img

Mengungkap Praktek Pungli di Kota Wali

Demak, Demaknews.id – Malam itu bulan menyinari sudut-sudut sempit Kota Wali dengan cahaya kemilaunya, namun lalu lalang kendaraan  nampak bergeliat memadati setiap sudut Pasar Bintoro.

Sudah mafhum masyarakat setempat akan kegiatan pasar malam dengan sebutan Pasar Kremyeng yang mulai beroperasi dari sekitar jam 23.00 hingga 05.00 WIB itu.

Seraya menikmati segelas kopi panas dan beberapa batang rokok di angkringan tepi jantung Kota Wali, kornea mata saya melihat riuh rendah pergerakan ekonomi masyarakat di Pasar Kremyeng cukup stabil.

Baca juga : Pemkab Demak Perkuat Implementasi Gerakan Nasional Revolusi Mental

Menatap lebih jauh, dari kendaraan roda dua hingga truk besar mengangkut sayuran berduyun-duyun menjajakan dagangannya. Para pedagang tersebut tidak hanya dari Kota Wali, namun dari beberapa kota tetangga yang turut mengais rupiah di Pasar Kremyeng.

Namun dibalik raut-raut muka optimisme mendulang rezeki untuk kelangsungan hidup lebih lama lagi, ada sejengkal rasa jemu dalam diri para pedagang. Selama berdagang mereka selalu dipungut biaya yang dilakukan oleh oknum preman tidak bertanggung jawab.

“Dalihnya untuk kebersihan hingga keamanan mas, tapi nyatanya kalo ada masalah, mereka lepas tangan padahal kita sudah bayar,” ujar Mawar (nama samaran) yang telah berjualan di Pasar Kremyeng lebih dari 10 tahun itu.

Dari wawancara yang dilakukan jatengnews.id terhadap 6 pedagang Pasar Kremyeng, tak satupun yang memberanikan diri menyebutkan nama terang. Mereka merasa khawatir jika nantinya akan ada tindakan repsesif yang dilakukan oknum preman Pasar Kremyeng.

“Setiap malam kita ditarik uang itu beda-beda tiap pedagang. Ada yang Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu. Kalo kita tidak melawan ya tidak dikurangi, tapi kalo berani melawan bisa kurang,” tambah Mawar.

Dari data yang diperoleh, jika dirata-rata dalam satu malam oknum menerima Rp 22 ribu, maka dari total pedagang Pasar Kremyeng yang kurang lebih 250 orang itu maka diperoleh hasil sebanyak Rp 165 juta rupiah. Angka yang cukup fantastis untuk satu pasar daerah.

“Lapak juga dihargai, kalau ada penjual baru itu pasti ditarik uang pangkal, ada yang Rp 3 juta hingga Rp 5 juta, itu sesuai dengan besar kecilnya lapak,” tegasnya.

Para pedagang pun telah mengetahui jika oknum preman tersebut tidak memiliki bekingan dari instansi manapun. Tindakan premanisme dengan pungli tersebut memang telah melanggar hukum.

“Kita tau kalau mereka bukan dari dinas. Kan kita sering nembusin dinas. Sebenarnya kita ingin memastikan mereka itu orang siapa dan posisi kita seperti apa di sini (Pasar Kremyeng), kita sebagai pedagang hanya ingin keamanan dan kenyamanan,” paparnya.

Keamanan dan kenyamanan tersebut hadir dari instansi pemerintah terkait. Sehingga bisa lebih tertata, rapi, bersih, dan tentunya tidak ada tindakan premanisme yang merugikan.

“Kita sebenarnya manut sama dinas kalau emang posisi kita jelas dan biar terlindungi. Tidak seperti ini yang setiap malam di datangi preman yang menarik pungli,” ucapnya.

Pasar Kremyeng pada 19 Mei 2022 juga telah di pindahkan ke Pasar Jebor. Namun hanya berjalan beberapa malam. Langkah tersebut nampak belum maksimal.

Kemudian kembali lagi ke Pasar Bintoro. Pedagang Pasar Kremyeng menempati area dalam Pasar Bintoro beberapa malam. Hingga akhirnya kembali keluar Pasar Bintoro.

Ditemui di Pasar Bintoro, Ketua Paguyuban pedagang Pasar Bintoro, Fatah mengungkapkan, bahwa sebenarnya area dalam Pasar Bintoro mampu menampung pedagang Pasar Kremyeng ketika jam dagang malam mereka dimulai.

“Sebenarnya bisa menampung, cuma indikasi nya karena ada intimidasi pelaku premanisme baik ke pedagang jadi mereka kembali keluar pasar. Pembeli juga tidak diperbolehkan membeli ketika Pasar Kremyeng berada di dalam Pasar Bintoro sama preman tersebut,” terangnya.

Lebih lanjut Fatah menegaskan, pihaknya telah menampung berbagai aspirasi pedagang Pasar Kremyeng. Seperti tindakan pungli yang hingga saat ini tidak kunjung bisa diatasi.

“Atas aspirasi tersebut, kami sebenarnya telah melaporkan ke berbagai pihak, salah satunya Tim Saber Pungli, sempat ada tindakan. Tapi hingga hari ini pedagang Pasar Kremyeng juga masih mengeluh soal pungli itu,” kata Fatah.

Pihaknya pun tidak bisa bertindak lebih. Pasalnya memang membutuhkan koordinasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pungli di Pasar Kremyeng itu.

“Kalau paguyuban badan hukumnya setelah vakum ini belum keluar. Jadi kita juga belum bisa berbuat apa-apa. Penanganannya pun perlu koordinasi dengan berbagai pihak instansi terkait,” paparnya.

Disinyalir tindakan premanisme di Pasar Kremyeng di komandoi oleh HP dan TM. Oknum preman tersebut bercokol di sekitar lorong-lorong pasar dengan tindakan pungli yang telah terang-terangan dilakukan dengan begitu entengnya.

Sementara itu, salah satu pembeli Pasar Kremyeng, Nur menuturkan, jika Pasar Kremyeng dipindahkan ke Pasar Jebor memang dilematis karena jaraknya yang jauh dari pusat kota. Selain itu juga harus melawati jalan Demak-Kudus yang setiap malamnya dilewati kendaraan besar seperti bus, truk, dan kontainer.

“Kalau di dalam Pasar Bintoro bagi saya lebih baik biar tertata dan rapi. Jalanan juga tidak semrawut. Semoga pemerintah bisa memerhatikannya,” pungkasnya. (Nizar-03)

Related Articles

- Advertisement -spot_img