30 C
Demak
27 May 2023
spot_img

Menelisik Jamu Warisan Kasultanan Demak

Demak, Demaknews.id – Jamu coro asal Demak, Jawa Tengah merupakan wedang atau minuman dari rempah warisan nenek moyang. Sejumlah desa masih memproduksi jamu dengan cita rasa khas jahe dan mrica tersebut sebagai salah satu sajian hajatan.

Selain itu, Jamu dengan bahan 15 ragam rempah tersebut juga diperjualbelikan di sejumlah tempat jajan, seperti halnya Jalan Bhayangkara Perempatan Kali Tuntang. Jamu tersebut disajikan secara original dan juga ada yang ditambahkan bubur sumsum berwarna putih sesuai keinginan pembeli.

Kepala UPTD Museum Glagah Wangi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Demak, Ahmad Widodo mengatakan nama populer jamu tersebut sebelumnya dengan sebutan wedang ‘blung’ karena bunyinya saat pengambilan dari wadahnya. Selain itu Widodo menyebut, jamu coro dengan pelafalan huruf “o” dari bahasa indonesia cara atau upaya tersebut sudah ada sejak zaman Kasultanan Demak Bintoro sebagai ibukota dengan pusat perdagangan.

“Yang jelas, sejak saya kecil belum lahir itu sudah ada jamu coro. Dulu nama populernya di kalangan anak-anak itu wedang ‘blung’ karena pada saat diambil, mengambilnya itu berbunyi ‘blung’ karena di dalamnya medianya pakai klenting, karena klenting itu mulutnya kecil terus mengambilnya seperti gayung dari bambu tadi,” jelas Widodo, Kamis (22/7/2021).

“Mungkin saja memang betul minuman jamu coro itu sejak zaman kasultanan, masalahnya zaman kerajaan pun di Demak ini pusatnya rempah-rempah juga pada zaman itu. Dari daerah-daerah lain ditampung di Demak, ibukota, setelah itu baru disalurkan ke negeri lain. Contoh salahsatunya Aceh, Timur Tengah, Belanda, itu kan mungkin saja,” sambung Widodo.

“Entah itu dulu resepnya dari Cina atau Arab yang jelas di sini dulu pusatnya rempah-rempah di Demak itu, karena termasuk ibukota, karena ibukota kan pusatnya perdagangan. Selain itu Kita melihat geografisnya di daerah sekitar Desa poncoharjo dan Karangmlati itu termasuk daerah bersejarah. Yaitu Dukuh Poncowati Desa Poncoharjo tempat bermukimnya Kanjeng Sunan Kudus waktu itu. Desa Karangmlati ada Dukuh Sodagaran ini orang orang sodagar dulu tempatnya di situ. Sedangkan sampai sekarang dan sudah jarang (membuat jamu coro) yang masih membikin itu Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang. Nah inikan ada rentetan rentetan sejarah zaman dahulu,” terangnya.

Widodo menjelaskan, dulunya penjual jamu coro menjual menggunakan klenting atau gentong dari tanah liat yang digendong menggunakan anyaman bambu. Sementara gayung untuk mengambil jamu coro tersebut juga berbahan bambu seperti halnya timba yang terdapat pengaitnya, sehingga fleksibel menyesuaikan ukuran lubang klenting yang relatif kecil.

“Dunak atau gendongan dari anyaman bambu, dunak itu digendong, di dalamnya klenting atau gentong dari tanah liat. Klenting itu karena mulutnya kecil, mengambilnya dengan cara diambil pakai gayung, gayungnya seperti timbo. Gayung itu semacam bambu, saat dicelupkan bisa bergoyang menyesuaikan lubang terus diambil airnya terus diambil. Waktu masuk itu bunyi ‘blung’, maka anak anak kecil zaman dulu diberi nama wedang blung,” ujar Widodo.

“Itu digendong, dulu yang jualan itu ibu-ibu seperti jamu gendong itu,” imbuh Widodo.

Widodo menambahkan, jamu coro tersebut selain sebagai salah satu kuliner yang bisa dijual, juga kerapkali tersedia saat acara hajatan. Salah satu alasannya bisa memberikan rasa hangat bagi tamu undangan.

“Perkembangan ke sini jamu coro tidak memakai media semacam itu, bahkan untuk disajikan dalam pertemuan hajatan, tahlilan, itu biasanya masing-masing punya inisiatif untuk menyajikan jamu coro tersebut, agar hangat karena di dalamnya kan ada rempah-rempahnya,” tuturnya. (Sai-03)

Related Articles

- Advertisement -spot_img